B.
Definisi Sosialisasi
Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau
nilai
dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok
atau masyarakat.
Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam
proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.
Peter L. Berger:
Sosialisasi adalah proses dalam mana
seorang anak belajar menjadi seseorang yang
berpartisipasi dalam masyarakat.
Yang dipelajari dalam sosialisasi adalah peran-peran,
sehingga teori sosialisasi adalah
teori mengenai peran (role theory).
Robert M.Z. Lawang:
Sosialisasi adalah proses
mempelajari nilai, norma, peran dan persyaratan lainnya yang
diperlukan untuk memungkinkan seseorang
dapat berpartisipasi secara efektif dalam
kehidupan sosial.
Horton dan Hunt:
Suatu proses yang terjadi ketika
seorang individu menghayati nilai-nilai dan norma-norma
kelompok di mana ia hidup sehingga
terbentuklah kepribadiannya.
Dalam proses sosialisasi terjadi
paling tidak tiga proses, yaitu:
(1) belajar nilai dan
norma(sosialisasi).
(2) menjadikan nilai dan norma yang
dipelajari tersebut sebagai milik diri (internalisasi).
(3) membiasakan tindakan dan
perilaku sesuai dengan nilai dan normayang telah menjadi miliknya
(enkulturasi).
C. Fungsi
Sosialisasi
1. Bagi individu: agar dapat hidup
secara wajar dalam kelompo/masyarakatnya, sehingga
tidak aneh dan diterima oleh warga
masyarakat lain serta dapat berpartisipasi aktif
sebagai anggota masyarakat
2. Bagi masyarakat: menciptakan
keteraturan sosial melalui pemungsian sosialisasi sebagai
sarana pewarisan nilai dan norma
serta pengendalian sosial.
D. Jenis
Sosialisasi
Berdasarkan jenisnya, sosialisasi
dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi
sekunder (dalam masyarakat). Menurut Goffman kedua proses tersebut
berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja.
Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang
sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu,
bersama-sama menjalani hidup yang terkukung, dan diatur secara formal.
Sosialisasi primer
Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer
sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar
menjadi anggota masyarakat (keluarga).Sosialisasi primer berlangsung saat anak
berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah.Anak
mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mulai mampu
membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya.
Dalam tahap ini, peran orang-orang
yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan
pola interaksi secara terbatas di dalamnya.Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan
interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.
Sosialisasi sekunder
Sosialisasi sekunder adalah suatu
proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan
individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat.
Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi.
Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru.
Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami 'pencabutan'
identitas diri yang lama.
E. Tipe
Sosialisasi
Setiap kelompok masyarakat
mempunyai standar dan nilai yang berbeda.contoh, standar 'apakah seseorang itu baik
atau tidak' di sekolah dengan di kelompok sepermainan tentu berbeda. Di sekolah,
misalnya, seseorang disebut baik apabila nilai ulangannya di atas tujuh atau
tidak pernah terlambat masuk sekolah.Sementara di kelompok sepermainan,
seseorang disebut baik apabila solider dengan teman atau saling
membantu.Perbedaan standar dan nilai pun tidak terlepas dari tipe sosialisasi
yang ada.Ada dua tipe sosialisasi.Kedua tipe sosialisasi tersebut adalah
sebagai berikut.
- Formal
Sosialisasi tipe ini terjadi melalui
lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara,
seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.
- Informal
Sosialisasi tipe ini terdapat di
masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara
teman, sahabat,
sesama anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.
F.
Tahap-tahap Sosialisasi
Menurut George Herbert Mead
George Herbert Mead menjelaskan bahwa diri manusia berkembang secara bertahap
melalui interaksinya dengan anggota
masyarfakat yang lain, mulai dari play stage, game
stage, dan generalized other.
Tahap 1: Preparatory
• Dalam tahap ini individu meniru
perilaku orang-orang yang ada di sekitarnya, tetapi
belum mampu memberi makna apapun
pada tindakan yang ditiru.
• Merupakan peniruan murni.
Tahap 2: Play Stage
Play Stage, atau tahap permainan, anak mulai memberi makna terhadap
perilaku yang ditiru.
Mulai mengenal bahasa. Mulai
mendefinisikan siapa dirinya (identifikasi diri) sebagaimana
definisi yang diberikan oleh significant
other.
Significant other merupakan orang yang secara nyata penting bagi seseorang
dalam proses
sosialisasi. Bagi anak-anak dalam
tahap play stage, orangtua merupakan significant other.
Bahkan, anak-anak tidak dapat
memilih siapa significant other-nya!
Ketika ada yang menyapa: “Hi, Agus”,
maka anak mengerti: “Oh – aku Agus”. “Hi, Pintar”.
“Oh, aku pintar”.“Bodoh banget
kamu”.“Oh, aku bodoh banget”, dan setertusnya. Definisi
diri pada tahap ini sebagaimana yang
diberikan oleh significant other.
Tahap 3 Game Stage
• Tahap ini berbeda dari tahap
permainan, karena tindakan meniru digantikan dengan
tindakan yang disadari.
• Tidak hanya mengetahui peran yang
dijalankannya, tetapi juga peran orang lain dengan
siapa ia berinteraksi.
• Bisakah Anda membedakan antara
“bermain bola” dengan “pertandingan sepakbola”?
Bermain bola dapat dilakukan oleh
anak-anak pada yang telah mengalami sosialisasi
tahapplay stage, tetapi
bertanding sepakbola baru dapat dilakukan oleh anak-anak yang
telah mengalami sosialisasi pada
tahap game stage. Mengapa demikian? Karena dalam
pertandingan sepakbola ada prosedur
dan tatacara yang harus ditaati. Anak-anak akan memahami tentang prosedur dan
tatacara apabila telah mengalami sosialisasi pada tahapgame stage
Menurut
Charles H. Cooley
Charles H. Cooley lebih menekankan peranan interaksi dalam teorinya. Menurut
dia, Konsep Diri (self concept) seseorang berkembang melalui
interaksinya dengan orang lain. Sesuatu yang kemudian disebut looking-glass
self terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut.
1. Kita membayangkan bagaimana kita
di mata orang lain.
Seorang anak merasa dirinya sebagai
anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki
prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai lomba.
2. Kita membayangkan bagaimana orang
lain menilai kita.
Dengan pandangan bahwa si anak
adalah anak yang hebat, sang anak membayangkan pandangan orang lain
terhadapnya. Ia merasa orang lain selalu memuji dia, selalu percaya pada
tindakannya. Perasaan ini bisa muncul dari perlakuan orang terhadap dirinya.
MIsalnya, gurunya selalu mengikutsertakan dirinya dalam berbagai lomba atau
orang tuanya selalu memamerkannya kepada orang lain. Ingatlah bahwa pandangan
ini belum tentu benar. Sang anak mungkin merasa dirinya hebat padahal bila
dibandingkan dengan orang lain, ia tidak ada apa-apanya. Perasaan hebat ini
bisa jadi menurun kalau sang anak memperoleh informasi dari orang lain bahwa
ada anak yang lebih hebat dari dia.
3. Bagaimana perasaan kita sebagai
akibat dari penilaian tersebut.
Dengan adanya penilaian bahwa sang
anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri.
G.
Agen-agen Sosialisasi
Agen sosialisasi adalah pihak-pihak
yang melaksanakan sosialisasi.Dapat juga disebutsebagai media sosialisasi.
Jacobs dan Fuller (1973), mengidentifikasi empat agen utama sosialisasi,
yaitu: (1)keluarga, (2) kelompok pertemanan, (3) lembaga pendidikan, dan (4)
media massa. Para ahlisosiologi menambahkan juga peran dan pengaruh dari
lingkungan kerja.
1. Keluarga sebagai agen/media
sosialisasi
Keluarga
merupakan satuan sosial yang didasarkan pada hubungan darah (genealogis),dapat
berupa keluarga inti (ayah, ibu, dan atau tanpa anak-anak baik yang
dilahirkanmaupun diadopsi), dan keluarga luas, yaitu keluarga yang terdiri atas
lebih dari satukeluarga inti yang mempunyai hubungan darah baik secara hirarkhi
maupun horizontal.
Nilai
dan norma yang disosialisasikan di keluarga adalah nilai norma dasar
yangdiperlukan oleh seseorang agar nanti dapat berinteraksi dengan orang-orang
dalammasyarakat yang lebih luas.
Pihak yang terlibat (significant
other):
Pada keluarga inti: ayah, ibu
saudara kandung, pada keluarga luas: nenek, kakek, paman,bibi, pada masyarakat
menengah perkotaan sejalan dengan meningkatnya partisipasi kerjaperempuan: baby
sitter, pembantu rumah tangga, petugas pada penitipan anak, guru padaplay
group, dll.
2. Kelompok pertemanan sebagai
agen/media sosialisasi
Dalam
lingkungan teman sepermainan lebih banyak sosialisasi yang berlangsungequaliter,
seseorang belajar bersikap dan berperilaku terhadap orang-orang yang
setarakedudukannya, baik tingkat umur maupun pengalaman hidupnya.
Melalui
lingkungan teman sepermainan seseorang mempelajari nilai-nilai dan norma-norma
dan interaksinya dengan orang-orang lain yang bukan anggota
keluarganya.Disinilah seseorang belajar mengenai berbagai keterampilan sosial,
seperti kerjasama,mengelola konflik, jiwa sosial, kerelaan untuk berkorban,
solidaritas, kemampuan untukmengalah dan keadilan.Di kalangan remaja kelompok
sepermainan dapat berkembangmenjadi kelompok persahabatan dengan frekuensi dan
intensitas interaksi yang lebihmantap. Bagi seorang remaja, kelompok
persahabatan dapat berfungsi sebagai penyaluran berbagai perasaan dan aspirasi,
bakat, minat serta perhatian yang tidak mungkin disalurkan di lingkungan
keluarga atau yang lain.
Peran positif kelompok
sepermainan/persahabatan:
•Memberikan rasa aman dan rasa yang
dianggap penting dalam kelompok yang
berguna bagi pengembangan jiwa
•Menumbuhkan dengan baik kemandirian
dan kedewasaan
•Tempat yang baik untuk mencurahkan
berbagai perasaaan: kecewa, takut, kawatir,suka ria, dan sebagainya, termasuk
cinta.
•Merupakan tempat yang baik untuk
mengembangkan ketrampilan sosial: kemampuanmemimpin, menyamakan persepsi,
mengelola konflik, dan sebagainyaTentu saja ada peran kelompok persahabatan
yang negatif, seperti perilaku-perilaku yangberkembang di lingkungan delinquen
(menyimpang), misalnya gang.
3. Sistem/lingkungan pendidikan
sebagai agen/media sosialisasi
Dilingkungan
pendidikan/sekolah anak mempelajari sesuatu yang baru yang belumdipelajari
dalam keluarga maupun kelompok bermain, seperti kemampuan membaca,menulis, dan
berhitung.
Lingkungan
sekolah terutama untuk sosialisasi tentang ilmu pengetahuan dan teknologiserta
nilai-nilai kebudayaan yang dipandang luhur dan akan
dipertahankankelangsungannya dalam masyarakat melalui pewarisan (transformasi)
budaya darigenerasi ke generasi berikutnya.
Fungsi sekolah sebagai media
sosialisasi antara lain:
• mengenali dan mengembangkan
karakteristik diri (bakat, minat dan kemampuan)
• melestarikan kebudayaan
• merangsang partisipasi demokrasi
melalui pengajaran ketrampilan berbicara dan
pengembangan kemampuan berfikir
kritis, analistis, rasional dan objektif
• memperkaya kehidupan dengan
cakrawala intelektual serta cita rasa keindahan
• mengembangkan kemampuan
menyesuaikan diri dan kemandirian
• membelajarkan tentang hidup sehat,
prestasi, universalisme, spesifisitas, dll.
4. Sistem/lingkungan kerja sebagai
agen/media sosialisasi
Di
lingkungan kerja seseorang juga belajar tentang nilai, norma dan cara hidup.
Tidaklahberlebihan apabila dinyatakan bahwa cara dan prosedur kerja di
lingkungan militer berbeda dengan di lingkungan sekolah atau perguruan tinggi.
Seorang anggota tentaraakan bersosialisasi dengan cara kerja lingkungan militer
dengan garis komando yangtegas. Dosen atau guru lebih banyak bersosialisasi
dengan iklim kerja yang lebihdemokratis.
5. Peran media massa
Para
ilmuwan sosial telah banyak membuktikan bahwa pesan-pesan yang
disampaikanmelalui media massa (televisi, radio, film, internet, surat kabar,
makalah, buku, dst.)memberikan pengaruh bagi perkembangan diri seseorang,
terutama anak-anak.
Beberapa
hasil penelian menyatakan bahwa sebagaian besar waktu anak-anak dan remaja
dihabiskan untuk menonton televisi,
bermain game online dan berkomunikasi melaluiinternet, seperti yahoo
messenger, google talk, friendster, facebook, dll.
Diakui
oleh banyak pihak bahwa media massa telah berperan dalam proses homogenisasi,
bahwa akhirnya masyarakat dari
berbagai belahan dunia memiliki struktur dankecenderungan cara hidup yang sama.
H.
Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian
Kepribadian atau personalitas dapat
didefinisikan sebagai ciri watak seorang individu yangkonsisten memberikan
kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khas. Kepribadianmerupakan
organisasi dari faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis, yang
unsur-unsurnya adalah: pengetahuan, perasaan, dan naluri.
1. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan unsur yang
mengisi akal-pikiran seseorang yang sadar, merupakanhasil dari pengalaman
inderanya atau reseptor organismanya.Dengan pengetahuan dankemampuan akalnya
manusia menjadi mampu membentuk konsep-konsep, persepsi, ideaatau
gagasan-gagasan.
2. Perasaan
Kecuali pengetahuan, alam kesadaran
manusia juga mengandung berbagai macam perasaan,yaitu keadaan dalam kesadaran
manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilainyasebagai positif atau
negatif.Perasaan bersifat subjektif dalam diri manusia dan mampumenimbulkan
kehendak-kehendak.
3. Dorongan naluri (drive)
Naluri merupakan perasaan dalam diri
individu yang bukan ditimbulkan oleh pengaruhpengetahuannya, melainkan sudah
terkandung dalam organisma atau gennya
I. Faktor-faktor
yang Berpengaruh dalam Pembentukan Kepribadian
Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pembentukan kepribadian, antara lain:
1. Warisan biologis (misalnya
bentuk tubuh, apakah endomorph/gemuk bulat,ectomorph/kurus tinggi, dan
mesomorph/atletis. Dari beberapa penelitian diketahuibahwa mesomorph lebih
berpeluang melakukan tindakan-tindakan, termasuk berperilakumenyimpang dan
melakukan kejahatan)
2. Lingkungan fisik/alam (tempat
kediaman seseorang, apakah seseorang berdiam dipegunungan, dataran rendah,
pesisir/pantai, dst. akan mempengaruhi kepribadiannya)
3. Faktor lingkungan kultural (Kebudayaan
masyarakat), dapat berupa:
a. kebudayaan khusus kedaerahan atau
etnis (Jawa, Sunda, Batak, Minang, dst.)
b. cara hidup yang berbeda antara
desa (daerah agararis-tradisional) dengan kota(daerah industri-modern)
c. kebudayaan khusus kelas sosial
(ingat: kelas sosial buka sekedar kumpulan dariorang-orang yang tingkat
ekonomi, pendidikan atau derajat sosial yang sama,tetapi lebih merupakan gaya
hidup)
d. kebudayaan khusus karena
perbedaan agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu,Budha, dan lain-lain)
e. pekerjaan atau keahlian (guru,
dosen, birokrat, politisi, tentara, pedagang,wartawan, dll.)
4. Pengalaman kelompok (lingkungan
sosial): dengan siapakah seseorang bergaul danberinteraksi akan mempengaruhi
kepribadiannya
5. Pengalaman unik (misalnya
sensasi-sensasi ketika seseorang dalam situasi jatuh cinta)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar